Archive

Posts Tagged ‘perlu’

kenapa saya males nge-root android??

February 28, 2015 Leave a comment

Sudah tahun 2015 masih banyak yang gak tahu root itu apa.. singkatnya Root itu kita punya hak akses administrator, kalau sudah punya wewenang admin kita bisa otak atik file sistem, kenapa hampir semua HP tidak di root dari pabrik? alasannya jelas, dengan pembatasan hak akses, hp kita relatif aman dari virus dan ketidak stabilan sistem.

Nge-root itu gampang brow and sist, tutorial banyak, apalagi kalau ngerti bahasa inggris.. tinggal buka forum XDA Developer… belajar 5 menit, trus download bahan2 yg diperlukan,,  selanjutnya tinggal ikuti langkah2nya…

Dengan banyaknya aplikasi yang membutuhkan ROOTING, pasti ada saja teman minta di-root kan,, padahal, dengan hak akses administrator, seharusnya user memiliki sedikit pengetahuan teknis, agar bisa mengantisipasi saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. tapi, kalau ngeroot yang gampang saja gak ngerti, gimana caranya mau menghandle saat terjadi sesuatu sama handset? pasti TUKANG ROOT-nya yang dicari2.

Rooting android bisa dilakukan dengan beberapa metode, misalnya flashing ataupun dengan aplikasi yang memanfaatkan exploit seperti framaroot  & e-root. kondisi UNROOT alias bawaan pabrik itu jelas cocok untuk yang cuma tahu make, kondisi root kurang ideal dengan pemakai2 gaptek, karena bila sistem sudah terganggu, maka fungsi handset juga kurang maksimal, error dikit, lagi2 TUKANG ROOT-nya yang di cari.

alasan lainnya, nge-root hp juga lumayan beresiko, apa bila kita ceroboh (baterai tidak full, kabel kesenggol saat flashing, dll), bisa2 handset jadi error, mulai dari bootloop, soft brick maupun hard bricked, untuk itu recovery semacam CWM wajib buat jaga2 bila terjadi bootloop..  tapi bila sudah hard bricked ya wassalam… itulah sebabnya semua tutorial mod selalu disertai embel2 “DWYOR” alias Do it With Your Own Risk, alias resiko ditanggung pemirsa…wkwkwk… kalau pak Sutan Bathoegana bilang nge-root itu “ngeri2 sedap”..

Kondisi root sebenarnya tidak mendatangkan masalah berarti, hanya saja untuk faktor keamanan sistem, jelas lebih rentan, meskipun setiap tindakan oleh aplikasi harus melalui persetujuan SU, alias super user, malware maupun bug pada software akan selalu menjadi ancaman..

Beli gadget canggih dan mahal, mending pikir-pikir dulu

April 23, 2014 3 comments

Judul postingan aneh. salahkah membeli gadget? menurut opini saya itu relatif, dimana gadget itu sendiri adalah TOOLS alias ALAT, bila digunakan untuk sesuatu yang produktif, maka membeli gadget adalah pilihan cerdas, tapi jika membeli gadget dengan alasan PRESTISE, atau “Kepengen AJA” , membeli gadget bukan pilihan yang tepat.

Duit gue, suka2 gue
Ya, memang benar, tapi tahukah sampeyan kenapa sebagian orang hidupnya gak maju-maju? p11 = pergi pagi pulang petang pantat pegal pala pusing penghasilan pas pasan ,…..sering terjadi karena GADGET.. terutama masyarakat kalangan bawah. banyak orang dengan gaji dibawah 5 juta, memiliki gaya hidup setara orang berpendapatan 20juta. kadang harga gadget malah lebih besar dari gaji bulanan. itu baru dari gadget elektronik, belum termasuk kendaraan mewah dan hal-hal kurang produktif lainnya.

Gadget mahal? No way.
Bila bro en sis mengetahui prinsip kerja elektronik digital, gaya marketing pabrikan, hingga perkiraan daya tahan, pasti akan memahami, bahwa membeli gadget itu sebenarnya kurang bijak terutama bagi yang sedang membangun hidup. karena produktivitasnya bagi sebagian besar orang relatif rendah. Banyak orang terhipnotis membeli perangkat yang mahal dengan harapan dianggap melek teknologi dan mendapat status sosial, padahal melek teknologi itu bukan sekedar bisa memakai, melek teknologi itu (Imo) memahami prinsip kerjanya. coba saja tanya pada pengguna gadget 5jutaaan keatas, saya yakin kebanyakan tidak mengerti perbedaan LED & Neon LCD, cara kerja modem, atau prinsip kerja baterai dll.. Cara biar melek teknologi ya belajar. titik..

Produktivitas? maksute opo?
Produktivitas ya dihitung aja berapa keuntungan (tangible dan intangible) yang didapat dari barang tersebut?, jadi membeli suatu barang juga kadang2 perlu perthitungan Return Of Investment. misalnya, saya membeli Kunci(spanner) 22mm seharga Rp.40ribu, untuk mengencangkan rantai motorsport, yang di bengkel biasanya dikenakan 10ribu, dengan 4 kali mengencangkan rantai sendiri, saya sudah balik modal. dan kunci pas  masih bisa dipakai bertahun tahun kedepan, demikian juga dengan gadget elektronik, bila barang tersebut memiliki harga 20 juta (Fluke tester misalnya) , tetapi menunjang pekerjaan dengan pendapatan 10 juta per bulan, hanya dengan 2 kali project, sudah balik modal, dan bisa dipakai lagi dalam waktu yang lama. Produktivitas dengan kata lain tidak membuat grafik keuangan minus, tetapi berpotensi menanjak.
Jadi, meski barang itu kepakai, apakah perhitungan ROI nya balik? banyak teman pengguna HP mahal beralasan, penting nih menunjang pekerjaan, padahal 90 persennya hanya telepon dan SMS yang bisa dilakukan dengan HP 100ribuan. BBM buat jualan? udah bisa dengan HP android samsung dibawah 1jt, mau alasan apa lagi? hahahaha 😀

Jadi mending duitnya beli apa mas Vic?
Seperti  contoh diatas, saya pribadi lebih senang menghabiskan uang saya di perkakas rumah tangga elektronik dan bengkel. seperti obeng, kunci2, multi tester dan chemical supply.  bayangkan dengan powertools (bor, jigsaw dll) saya bisa mengerjakan sendiri perbaikan ringan yang bisa menghabiskan ratusan ribu bila harus menyewa orang lain.

Sekalian curahan isi otak saya yang mungkin agak ngaco dan gak semua benar, tidak ada maksud melecehkan individu tertentu, hanya sharing pandangan, semoga masyarakat kita tidak menjadi konsumen budak gadget dari negara lain dimasa yang akan datang…amiin..